VISI YAYASAN NAHDLATUL TUJJAR IALAH KEBANGKITAN DAN KEMENANGAN EKONOMI UMMAT

 

KEBANGKITAN EKONOMI UMMAT ISLAM

Pada zaman Rasulullah SAW dan Khulafaurrasyidin, kekuasaan pemerintahan Islam sangat cepat berkembang. Seluruh Jazirah Arab, Turki dan Persia, bahkan Romawi tunduk dibawah pemerintahan Islam. Korporasi-korporasi milik pengusaha muslim berdiri dengan megah menguasai dunia ekonomi dan bisnis ketika itu. Negeri-negeri Islam menjadi aman secara politik dan makmur secara ekonomi.  Pada zaman pemerintahan Ummar bin Khattab sudah tidak ditemukan penduduk yang mau menerima zakat karena hampir semuanya telah sejahtera. Begitupun pada masa keemasan kekhalifahan Ummayah ketika dipimpin oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz seluruh penduduk muslim sejahtera dan tidak ditemukan kemiskinan ataupun pengangguran.

 

Pada masa kini, ekonomi umat Islam dapat dikatakan sangat lemah dan lumpuh. Hal ini dapat dilihat dari kemiskinan dan pengangguran yang didominasi oleh umat Islam. Masjid dan Surau menjadi beban pembangunan yang tidak ringan bagi masyarakat, pondok pesantren dan lembaga pendidikan Islam pun sulit berkembang. Proposal pembangunan Masjid, Surau, pesantren, dan sarana Ibadah lainnya memenuhi setiap kantor pemerintah dan swasta di pusat maupun daerah, bahkan tak jarang berkeliling meminta sumbangan langsung kepada masyarakat dan yang lebih menyedihkan lagi ialah ketika jalan-jalan umum tak luput dari usaha meminta-minta sumbangan pembangunan. Sebagai muslim, tentu kita berkeyakinan bahwa Allah Swt, Rasulullah Swt, para sahabat, malaikat, dan orang-orang sholeh melihat apa yang terjadi pada umat Islam saat ini. Tanggung jawab generasi kitalah untuk kembali membangkitkan ekonomi umat yang kian terpuruk ini.

 

Membangun ekonomi umat Islam berarti membangkitkan kembali ekonomi umat Islam baik secara individu, keluarga, masyarakat dan Negara. Belajar dari kejayaan Rasulullah Saw dan para Sahabat dalam membangun ekonomi umat ketika itu, maka ada dua syarat utama jika ingin mengembalikan kejayaan ekonomi umat Islam yaitu; Pertama, umat Islam harus mempelajari dan mengamalkan kembali ilmu ekonomi dan bisnis Islam sesuai tuntunan al Quran dan al –Sunnah serta praktik ekonomi dan bisnis para sahabat. Puncak kejayaan ekonomi umat Islam pada zaman Khalifah Umar bin Khattab tidak terlepas dari kemampuan ekonomi dan bisnis seluruh umat Islam ketika itu, hal ini tercermin dengan adanya larangan bagi seluruh masyarakat untuk memasuki pasar kecuali bagi mereka yang telah mengetahui halal dan haran dalam jual beli agar terhindar dari praktik riba.

 

Kedua, mengembalikan sumber-sumber ekonomi pada kepemilikan umat Islam. Rasulullah SAW telah membangun sebuah sungai besar untuk ummatnya sehingga semua orang bisa minum darinya, Abu Bakar Assiddiq merawat sungai ekonomi itu seperti Rasulullah SAW sehingga semua ummat Islam dapat menikmatinya dengan adil dan berkecukupan, Umar bin Khattab juga sama merawatnya bahkan sungai itu semakin besar dan luas, begitupun dengan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib mereka merawat sungai itu sama seperti pendahulunya. Kemudian datanglah Muawiyah  membagi sungai itu menjadi beberapa bagian (Kerajaan-kerajaan) bahkan para penguasa mengizinkan keluarganya membuat aliran sungai-sungai kecil ke rumah mereka lalu membuat sumur sendiri-sendiri, akibatnya tidak ada lagi air yang mengalir kebawah untuk Ummat. Begitulah yang terjadi pada dinasti Abbasyah, dan dinasti Turki Usmani. Setelah runtuhnya dinasti Turki Usmani, maka hancurlah sungai besar itu beserta aliran-aliran sungainya, sehingga kini umat Islam tidak memiliki apa-apa dan tercerai berai dalam kemiskinan.

 

Kesimpulannya, Nahdlatul Tujjar dalam mengembalikan kejayaan ekonomi umat Islam akan berfokus pada mengajarkan/mengembalikan Ilmu Ekonomi dan bisnis Rasulullah Saw kepada Ummat Islam masa kini dan mendirikan korporasi-korporasi yang seratus persen milik Ummat dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran Umat Islam. Untuk itu, Yayasan akan menghimpun dana dari masyarakat melalui gerakan waqaf produktif, selain juga dari zakat, infaq, shodaqoh, dan lain-lain.

 

Dana yang terhimpun oleh Yayasan akan dipergunakan untuk mendirikan sekolah-sekolah bisnis hingga universitas yang bertujuan untuk mendidik, melatih dan mencetak calon-calon pengusaha muslim sejati sebagai pejuang dakwah/muballiq dan praktisi dibidang ekonomi (da’wah bill muamalah). Sekolah, pondok pesantren dan perguruan tinggi adalah pilihan terbaik dalam mencetak generasi emas dibidang ekonomi secara masal dan dalam jumlah banyak, selain melalui seminar, media sosial, majalah ekonomi Islam dan juga media lainnya. Oleh itu, setiap hari, setiap bulan bahkan setiap tahun jumlah ummat Islam yang menguasai ilmu ekonomi dan bisnis Rasulullah Saw akan semakin banyak dan tersebar ke seluruh penjuru bumi untuk menjadi pengusaha muslim dan menyebarkan ilmunya kepada Ummat Islam lainnya.

 

Selain itu, dana yang terkumpul juga akan diinvestasikan ke dalam perusahaan yang berbasis sosial waqaf corporat (SWCorps). Dimana perusahaan-perusahaan yang terbangun bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya bagi ummat Islam, mengentaskan kemiskinan, sebagai media praktik bisnis bagi calon-calon pengusaha muslim yang baru, dan tentunya untuk memperoleh keuntungan yang halalan toyyiban. Keuntungan perusahaan antara 50-75% akan diinvestasikan kembali untuk membangun korporasi-korporasi baru yang profitable, sedangkan 25-50% akan dipergunakan untuk membantu ummat Islam yang memerlukan, membantu anak yatim, fakir miskin, membangun masjid, musholla dan kegiatan kemanusiaan lainnya. Dengan demikian, dana yang terhimpun ibarat bola salju yang setiap saat bergelinding semakin besar dan semakin banyak membantu ekonomi Ummat Islam. Harta yang terhimpun akan terus semakin besar dan semakin banyak hingga menjadi sebuah sumur, kolam, bahkan sungai yang dapat memberi minum semua ummat Islam tanpa dimiliki oleh perorangan atau individu.

 

Yayasan Nahdlatul Tujjar tidak hanya sebagai tempat menggembleng atau tempat belajar calon-calon ekonom dan pengusaha muslim, namun ia juga sebagai tempat mendapatkan modal yang patuh syariah (tanpa riba). Yayasan akan menyediakan modal usaha kepada calon-calon pengusaha muslim baru yang telah memiliki ilmu bisnis Islam, baik dalam bentuk pinjaman (ta’awun), kerjasama (syarikat), musyarokhah, mudharobah dan berbagai bentuk kemudahan pembiayaan lainnya sehingga tidak lagi terjerumus ke dalam riba.

 

KEMENANGAN EKONOMI UMMAT ISLAM

 

Sebagaimana kita ketahui, keadaan ekonomi umat Islam masa kini sangat memprihatinkan karena hampir disemua sisi ekonomi Umat kalah bersaing dengan ekonomi barat (sosialis dan kapitalis). Kemiskinan dan pengangguran didominasi oleh umat Islam. Di tengah-tengah umat Islam, amalan riba tumbuh dengan suburnya hingga sulit mencari sumber modal usaha yang patuh syariah. Tidak hanya itu, cara berdagang yang tidak sesuai syariah juga sudah menjadi hal biasa dan membudaya. Oleh itu, pada masa kini kehadiran sebuah kekuatan ekonomi baru yang berperan membangun dan membela ekonomi umat Islam sangat diperlukan.

 

Melihat sejarah kebangkitan dan kemenangan ummat Islam pada masa Rasulullah Saw, Khulfaurrasyidin, Tabiin, Tabi’ tabiin, dan generasi setelahnya selalu terjadi apabila ummat Islam kembali menegakkan syariat Islam serta menjauhkan diri dari bermaksiat kepada Allah Swt. Kemenangan ummat Islam selalu dimulai dari ketaatan dan kepatuhan menjalankan syariah Islam yang pada akhirnya mendatangkan keridhoan, rahmat dan pertolongan dari sang Maha Penolong Sejati. Hal ini mengilhamkan kepada kita bahwa kebangkitan dan kemenangan ekonomi ummat Islam harus dimulai dengan mengembalikan kaum muslimin kepada cara-cara bermuamalah sesuai tuntunan al Quran dan al Sunnah yang tentunya harus dimulai dengan mengembalikan ilmu ekonomi dan bisnis Islam itu sendiri.

 

Puncak kebangkitan ekonomi Islam yang artinya adalah kemenangan bagi ekonomi kaum muslimin ialah ketika seluruh atau setidaknya sebagian besar ummat Islam sudah kembali memahami dan mempraktikkan cara-cara bermuamalah sesuai syariat Islam. Pada saat itu tidak ada lagi ummat Islam yang mengamalkan riba, jual beli terlarang, jual beli gharar dan meninggalkan jual beli apapun yang dapat menghasilan rezeki yang tidak halal. Ilmu bisnis Rasulullah Saw yang dipraktikkan kaum muslimin akan menjadikan ummat Islam sebagai pemenang dan pemimpin disetiap tingkatan pasar persaingan. Dunia perbankkan, finance, koperasi dan semua lembaga keuangan berasaskan riba tidak lagi memiliki nasabah karena kembali kepada syariah. Para pedagang non muslim tentunya kehilangan pasar, modal dan faktor-faktor produksi yang mereka miliki akan macet sehingga mengakibatkan mereka harus mundur dan gulung tikar. Pasar-pasar muslim akan ramai, Masjid dan Surau akan subur, madrasah dan sekolah-sekolah Islam mudah terbangun, kesejahteraan dan kedamaian akan tercermin dalam kehidupan kaum muslimin.

 

Untuk segera terwujudnya keadaan ini, maka haruslah dimulai dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan ekonomi dan bisnis Islam yang berkualitas, menerbitkan buku-buku, jurnal, prosiding, makalah, majalah dan media lainnya yang menjelaskan tentang ekonomi dan bisnis Islam yang benar-benar murni sesuai syariah. Oleh itu, Yayasan Nahdlatul Tujjar akan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan berkualitas Internasional untuk mencetak calon-calon muballig dan pengusaha muslim sejati. Adapun lembaga pendidikan yang akan didirikan oleh Yayasan akan dijelaskan pada bagian misi Yayasan.

 

Dalam rangka mempercepat dan memperkuat kebangkitan serta kemenangan ekonomi ummat Islam, maka korporasi-korporasi yayasan yang berasaskan waqaf korporat akan terus melebarkan sayapnya hingga menjadi perusahaan yang dapat memenangkan persaingan. Waqaf korporat yang berada di bawah Yayasan sebagai wadah mengembalikan modal, harta dan faktor-faktor produksi lainnya kepada kepemilikan ummat Islam dan akan dipergunakan seluas-luasnya untuk kepentingan dan kesejahteraan ummat.

 

Dari harta waqaf produktif yang dikelola Yayasanlah akan muncul solusi kredit yang seratus persen patuh syariah tanpa riba, tempat praktik bisnis sesuai syariah bagi calon pengusaha muslim yang baru, sumber keuangan utama ummat Islam dalam membangun Masjid, Surau, Pesantren, sekolah-sekolah berbasis Islam, bantuan fakir miskin, yatim piatu, biaya pendidikan dan masalah sosial ummat Islam lainnya. Yayasan Nahdlatul Tujjar sebagai pelopor pendidikan ekonomi dan bisnis Islam yang mampu mencetak ekonom dan pengusaha muslim sejati secara permanen, sumber dana patuh syariah, dan solusi utama bagi mengatasi berbagai permasalahan sosial dan ekonomi masyarakat.